Orangtua Protes Telur & Jeruk Busuk di Menu MBG, SDN 1 Padaringan Akui Pernah Terima Sayur Basi, SPPG Jelaskan Kendala Operasional, YLBH Merah Putih Angkat Suara



Video curhat orangtua siswa SDN 1 Padaringan dengan membawa telur busuk beredar di media sosial. Pihak sekolah mengaku pernah ada kejadian sayur basi. Dapur SPPG Delatina, penyuplai makanan, mengakui ada kecolongan dalam pemeriksaan kualitas akibat kewalahan mengelola 3000 lebih porsi dengan tenaga terbatas.


Ciamis, Jawa Barat.

Swaraekslusif.com


Sebuah video singkat berdurasi 17 detik yang memperlihatkan seorang orangtua siswa memegang telur busuk sambil berbicara dengan nada kecewa viral di grup media sosial. Dalam bahasa Sunda, orangtua tersebut berkata, "ieu teh asa ku teu kira kira mbg ieuh cnah, mbg sd telor buruk titah di dahar ku budak gera teu kira kira, gusti nu agung ieuh cik atuh ieuh nu kieu mah ulah di parabkeun ka budak atuh".


Video ini beredar bersamaan dengan video lain berdurasi 24 detik yang menunjukkan tangan seseorang sedang memegang dan mengupas jeruk yang juga tampak busuk, yang diduga berasal dari lokasi yang sama, yaitu SDN 1 Padaringan.


BACA JUGA : 

SENTUH RAKYAT LANGSUNG: WAPRES GIBRAN KUNJUNGI PASAR, RUMAH SAKIT, SEKOLAH, DAN PESANTREN DI TASIKMALAYA 


MK PASANG BENDERA KUNING: "PERLINDUNGAN HUKUM" WARTAWAN TAK BOLEH SEMU


*ket : cuplikan dari vidio berdurasi 17dtk


Menanggapi beredarnya video tersebut, Swara Ekslusif mendapatkan konfirmasi dari SDN 1 Padaringan. Kepala Sekolah, Dede Heryadi, ia menjelaskan mekanisme penerimaan distribusi makanan : porsi untuk kelas bawah (kecil) datang pukul 07.00, sedangkan untuk kelas atas (besar) datang sekitar pukul 10.00-11.00. Total penerima manfaat di sekolahnya adalah 185 siswa dan 3 guru.


"Tidak ada yang komplain. Jikalau pun ada yang komplain, kami pihak sekolah sebagai penerima manfaat, kalau yang masih wajar mah saya tidak komen karena takut dianggap sekolah rewel," ujar Dede Heryadi kepada Swara Ekslusif, Senin (26/1/2026).


Ia mengungkapkan, makanan untuk hari Sabtu dibagikan pada hari Jumat. Terakhir, sekolah mengetahui ada makanan basi kurang lebih seminggu yang lalu untuk siswa kelas atas. "Yang basinya sayurannya. Dan anak-anak pun sudah tahu kalau tidak enak ya tidak dimakan. Memang tidak basi sepenuhnya, yang kalau dihangatkan masih layak untuk dimakan," jelasnya.


Saat diberitahu tentang telur dan jeruk busuk dalam video beredar, pihak sekolah menyatakan tidak mengetahuinya. Dede mengaku pihaknya dalam posisi sekolah serba salah. "Sekolah jadi posisi bingung, jika rewel takut ada intervensi dari dapur SPPG. Sampai dikabarkan di daerah lain ada kejadian orang tua yang komplain, sampai anak dari orangtua yang komplain itu tidak diberi bagian makanan," tuturnya.


Ia menyebutkan, dapur SPPG (Satuan Pendidikan Penyedia Gizi) yang mensuplai sekolahnya baru saja mutasi. Awalnya dari SPPG Sicira Purwadadi, dan sejak awal Januari 2026 beralih ke SPPG Delatina. Dede berharap ke depannya SPPG lebih hati-hati dalam meracik, memeriksa, dan mengirimkan makanan. "Kita tidak macam-macam. Mungkin ketika basi, pengemasan terlalu malam," tambahnya.


BACA JUGA : 

TINDAK TEGAS PRESIDEN PRABOWO: CABUT IZIN 28 PERUSAHAAN PELANGGAR DI KAWASAN HUTAN PROVINSI TERDAMPAK BENCANA


TUJUH KEPALA DAERAH JEBLOK KPK SEBELUM GENAP SETAHUN JABATAN



Ket: Bayu Perwakilan Yayasan (Kiri) Ilham Kepala SPPG (tengah) hari asisten lapangan (kanan) 


Sumber Masalah dari Dapur SPPG: Kewalahan dan Kecolongan


Swara Ekslusif juga berhasil mendapatkan keterangan langsung dari pihak SPPG Delatina. Mereka mengakui adanya telur busuk, jeruk busuk, dan sayuran basi yang sampai ke sekolah. Konfirmasi ini disampaikan oleh Kepala SPPG Delatina, Muhamad Ilham Syahrizal, didampingi Asisten Lapangan (Aslap) Hari, dan Bayu sebagai perwakilan Yayasan Garuda Galuh yang menaungi dapur tersebut.


Ilham menjelaskan, SPPG Delatina melayani 34 sekolah dan 670 penerima B3 (Bumil, Busui, dan Balita), dengan total penerima manfaat mencapai 3048 orang. Dapur ini mulai beroperasi sejak 15 Desember 2025.


Hari sebagai Aslap (Asisten Lapangan) juga mengetahui adanya komplen dari orang tua murid itu, sampai dengan tahu siapa orang yang komplennya.


"Mulai berjalan memang ada saja yang komplain, mulai dari sayuran basi, telur busuk, dan jeruk busuk. ," kata Bayu.


Ia mengakui ada kecolongan dalam pengecekan kualitas (CQ). "Untuk telur busuk rata-rata dari supplier karena kita beli dalam jumlah banyak. Untuk di bulan Desember kita melayani 800-an penerima, saat Januari penambahan signifikan jadi 3000-an. Makanya untuk CQ mungkin ada 1 atau 2 yang tidak lolos," jelasnya.


Penambahan signifikan ini disebabkan kekurangan dapur di Purwadadi. Soal jeruk busuk, Bayu menyebut karena jumlah banyak kedatangan buah yang telat dan proses persiapan yang padat dari jam 4 pagi hingga 1 siang. "Mengurusi jeruk 3000 buah mungkin lama dan ada 1 atau 2 yang busuk sedikit mungkin terbawa. Dari mulai awal Januari memang ada," ucapnya.


Ia berargumen bahwa masalah busuk pada buah dan telur sulit dihindari karena tidak terlihat dari luar. "Dari 3000-an porsi per hari, tidak sampai 1 persen yang komplain," tambahnya.


SPPG Menyebut Kendala Tenaga dan Waktu


Bayu mengungkapkan kendala operasional utama adalah jumlah tenaga relawan yang terbatas, yaitu hanya 47 orang sesuai Juknis, untuk mengelola ribuan porsi dengan variasi (porsi kecil, besar, dan B3). "Jadi gimana caranya supaya relawan 47 ini bisa tepat waktu mengurusi yang B3 dengan porsi keringkan di kresek, sama mengurusin menu yang basah, ada 8000 untuk porsi kecil dan 10 ribu untuk porsi besar dengan Gramasi nasinya juga berbeda," paparnya.


Proses masak dimulai pukul 12.00 dan pendinginan selama 3 jam sebelum didistribusikan pukul 07.00-09.00 untuk porsi kecil, dan pukul 09.00-11.00 untuk porsi besar.


"Kita mengakui telah kecolongan di cek kualitas. Jika semuanya busuk kita juga tidak berani. Kita selalu evaluasi tiap minggu. Memang sulit ketika pekerja dibatasi hanya 47 orang untuk penerima manfaat 3000 atau lebih," katanya.


Bayu menegaskan, untuk setiap komplain yang masuk, pihaknya akan memberikan kompensasi penggantian. Ia juga ingin meluruskan paradigma masyarakat yang mengira dana per porsi masih Rp 15.000, padahal saat ini sudah ada penyesuaian untuk porsi kecil dan besar, dengan insentif untuk kader sesuai Juknis Rp 1.000 per porsi.


"Basi itu karena kita kejar waktu, dan kebanyakan tragedi basi itu di porsi besar karena terburu-buru waktu," imbuhnya.


Sebagai penutup, Bayu menyatakan SPPG Purwadadi Padaringan di bawah Yayasan Garuda Galuh Ciamis telah membuat grup PIC (Person In Charge) dengan perwakilan sekolah untuk menampung dan menyelesaikan komplain secara bersama-sama. Perlu di ketahui bahwa Yayasan tersebut memiliki total 5 dapur: 3 di Ciamis dan 2 di Garut.


YLBH Merah Putih Angkat Suara Atas Kejadian Tersebut


YLBH Merah Putih menilai temuan telur busuk, jeruk busuk, dan makanan basi dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) sebagai alarm kegagalan kebijakan pada level implementasi, bukan sekadar kesalahan teknis dapur.


Menurutnya, Program MBG adalah program negara yang menyangkut hak dasar anak dan kelompok rentan. Oleh karena itu, dalih kewalahan tenaga, keterbatasan waktu, atau volume penerima tidak dapat dibenarkan secara kebijakan maupun tanggungjawab publik. Jika dapur tidak mampu menjamin mutu dan keamanan pangan, maka kapasitasnya patut dipertanyakan dan dievaluasi secara serius.


MBG tidak boleh direduksi menjadi sekadar distribusi makanan gratis tanpa jaminan mutu. Satu saja makanan busuk yang sampai ke anak-anak merupakan kegagalan sistem pengawasan, dan berpotensi membahayakan kesehatan publik.


YLBH Merah Putih Tasikmalaya mendesak audit menyeluruh dan independen terhadap dapur SPPG terkait, melibatkan inspektorat, dinas kesehatan, serta ahli gizi, serta menuntut evaluasi kebijakan penunjukan, kapasitas, dan pengawasan dapur penyedia MBG.


Negara tidak boleh abai, sekolah tidak boleh dibungkam, dan orang tua tidak boleh dibuat takut untuk mengeluh. Jika praktik seperti ini dibiarkan, maka MBG berisiko menjadi program simbolik yang gagal melindungi anak-anak penerima manfaatnya.


Penulis : I Darmawan

Editor : Redaksi









Catatan Redaksi : Sebagai media yang Netral kami membuka ruang hak jawab bagi semua pihak yang berkepentingan dan memiliki Substansi dengan pemberitaan ini sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.






















Swara Ekslusif adalah portal berita independen yang fokus pada penyajian seputar informasi, tips, isu-isu hukum, politik, Kesehatan, Pendidikan, pemerintahan dan lain-lain di Indonesia.








© 2026 Swara Ekslusif - All Rights Reserved.

Lebih baru Lebih lama